Legitimasi Akad Dalam Hukum Perdata Islam: Kajian Terhadap Praktik Perkawinan di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.31849/t5g9wt05Keywords:
Legitimasi akad, Hukum Perdata Islam, Perkawinan, Kepastian HukumAbstract
Studi ini mengkaji bagaimana legitimasi akad dalam hukum perdata Islam diterapkan dalam praktik perkawinan di Indonesia. Fokus utama penelitian ini adalah menilai sejauh mana akad nikah yang dilakukan oleh masyarakat telah sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam serta aturan hukum yang berlaku. Pendekatan normatif yuridis digunakan dengan menelaah sumber-sumber hukum Islam, perundang-undangan, dan putusan pengadilan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mayoritas akad nikah telah memenuhi ketentuan hukum Islam, masih terdapat praktik yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum, terutama dalam hal pencatatan dan keabsahan formal. Oleh karena itu, diperlukan upaya harmonisasi antara hukum Islam dan hukum positif agar dapat menjamin kepastian hukum serta melindungi hak-hak para pihak yang terlibat dalam perkawinan.
References
[1] RI, Dekiarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, no. Iii. 2006, pp. 1–6. doi: 10.1017/CBO9781107415324.004.
[2] P. RI, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, vol. 12, no. 16. 2002, pp. 81–87. doi: 10.1007/s13398-014-0173-7.2.
[3] R. Heryani, Iriansyah, and Ardiansyah, “Tanggung Jawab Pemerintah Terhadap Pelayanan Kesehatan Bagi Warga Lanjut Usia Dalam Hukum Positif Indonesia,” Coll. Stud. J., vol. 6, no. 2, pp. 642–656, 2023, doi: 10.56301/csj.v6i2.1148.
[4] A. N. F. Elungan and M. B. Z. Tjenreng, “Government Policy in Health Services: Kebijakan Pemerintah dalam Pelayanan Kesehatan,” Sci. J. Reflect. Econ. Accounting, Manag. Bus., vol. 8, no. 1, pp. 170–177, 2025, doi: 10.37481/sjr.v8i1.1031.
[5] M. A. Maulana and J. P. Avrillina, “Kesehatan sebagai Hak Asasi: Perspektif Filosofis tentang Hukum Kesehatan,” J. Contemp. Law Stud., vol. 2, no. 1, pp. 42–54, 2024, doi: 10.47134/lawstudies.v2i1.2075.
[6] F. F. Rahman, “Asuransi Kesehatan dan Penerapan di Berbagai Negara,” J. Ilm. Kedokt. dan Kesehat., vol. 4, no. 2, pp. 99–106, 2025, doi: 10.55606/klinik.v4i2.3914.
[7] Presiden RI, UU RI No.40 Tahun 2014 tentang Perasuransian. 2014, pp. 1–46.[Online].Available: https://www.ojk.go.id/Files/201506/1UU402014Perasuransian_143375867 6.pdf
[8] P. RI, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. 1910, pp. 47–54. doi: 10.1007/978-94-015-3530-4_9.
[9] F. A. Pribadi and E. Setijaningrum, “Analisis Prinsip Pembiayaan Kesehatan dalam Mendukung Cakupan Kesehatan Semesta di Indonesia,” Jejaring Adm. Publik, vol. 15, no. 2, pp. 60–78, 2023, doi: 10.20473/jap.v15i2.49582.
[10] P. RI, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, no. 187315. 2013, p. 68. [Online]. Available: http://www.amifrance.org/IMG/pdf_HM9_Mental_Health.pdf
[11] P. RI, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 2004, pp. 1–3.
[12] P. RI, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, vol. 2, no. 1. 2011, pp. 20–29. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.1080/10962247.2015.1083913%0Ahttps://doi.org/10.1 080/10962247.2015.1083913%0Ahttp://inpressco.com/category/ijcet%0A www.eijst.org.uk%0Ahttps://mafiadoc.com/sustainable-management-of- wet-market-waste-citeseerx_5b6de990097c470f468b45ef.h
[13] A. Dea, M. Simarmata, F. Pascasarjana, P. Studi, M. Hukum, and P. P. Budi, “Penerapan Pemerintah dan Sektor Swasta dalam Pembiayaan Kesehatan,” 2025.
[14] P. RI, Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, vol. 53. 2018, pp. 1689–1699.
[15] A. Syamsul, “Analisis Problematika Sistem Pembiayaan Kesehatan di Era Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN ),” Sosialita, vol. 2, no. 2, pp. 494–504, 2023, [Online]. Available: https://jurnal.untag- sby.ac.id/index.php/so
Additional Files
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Faisal, Roles Janeri, Dawamil Ikrom, Budi Heryawan, Asrizal Saiin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.




