STRATEGI PENGUATAN BUDAYA KESELAMATAN (SAFETY CULTURE) DI SEKOLAH LUAR BIASA MELALUI EDUKASI K3

Authors

  • Syakhila Pradhani, S.ST., M.K.M Universitas Lancang Kuning
  • Reni Mutara, S.Tr.Keb., M.K.M Universitas Lancang Kuning
  • Rio Animenendra, S.K.M., M.K.M Universitas Lancang Kuning
  • Santhy Syafriani, S.pd., M.Pd Universitas Lancang Kuning
  • Irham Ansya, S.E., M.K.M Universitas Lancang Kuning
  • Dr. Muhammad Toyeb, S.T., M.T Universitas Lancang Kuning

DOI:

https://doi.org/10.31849/bvtt5m16

Keywords:

Safety Culture, Sekolah Luar Biasa (SLB), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Edukasi Keselamatan, Strategi Penguatan

Abstract

Strategi Penguatan Budaya Keselamatan (Safety Culture) di Sekolah Luar Biasa (SLB) ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi budaya keselamatan (safety culture) di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Pekanbaru dan merumuskan strategi penguatan melalui edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Budaya keselamatan di Sekolah Luar Biasa (SLB) sangat penting mengingat karakteristik peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus dan memerlukan perhatian lebih dalam aspek keamanan dan keselamatan kegiatan belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai persepsi, praktik, dan strategi penguatan budaya keselamatan di lingkungan SLB. Lokasi penelitian meliputi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Pekanbaru, Sekolah Luar Biasa (SLB) Pelita Hati, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Pekanbaru, dengan subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan validitas data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip K3 di Sekolah Luar Biasa (SLB) masih berada pada tahap awal hingga menengah. Kesadaran dan pemahaman guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, serta peserta didik terhadap keselamatan sudah mulai terbentuk, namun praktik dan perilaku aman belum sepenuhnya konsisten. Sarana dan prasarana keselamatan di sekolah bervariasi, dengan sebagian sekolah memiliki fasilitas lebih lengkap, sementara sebagian lain masih memerlukan penguatan, terutama yang mendukung aksesibilitas peserta didik berkebutuhan khusus. Edukasi K3 melalui simulasi, pembelajaran tematik, dan aktivitas edukatif terbukti efektif meningkatkan kesadaran dan keterampilan peserta didik, namun implementasinya masih sporadis dan belum terintegrasi secara formal ke dalam kurikulum. Berdasarkan temuan tersebut, penguatan budaya keselamatan di Sekolah Luar Biasa (SLB) menunjukkan potensi yang tinggi untuk dilakukan melalui strategi yang sistematis, partisipatif, dan berkelanjutan. Keterlibatan semua pihak terkait, termasuk guru, kepala sekolah, siswa, orang tua, dan pemangku kepentingan eksternal, menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan karakter serta kesejahteraan peserta didik. Penelitian ini memberikan dasar empiris untuk pengembangan kebijakan sekolah dan strategi pendidikan keselamatan yang lebih terarah dan berkelanjutan di masa depan.

Downloads

Published

2026-01-01