BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK TEMBANG DALAM KONTEKS UPACARA REBO PUNGKASAN KEMBUL SEWU DULUR

  • Wahyu Surbono 085643319966
Keywords: Desa Pendoworejo, makna simbolik tembang, Rebo Pungkasan, Kembul Sewu Dulur, Semiotika Barthes

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang mengungkap bentuk dan makna tembang Kembul Sewu Dulur dalam konteks upacara Rebo Pungkasan Kembul Sewu Dulur di Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik teknik data berpijak pada metode kualitatif yaitu; Memenangkan urusan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Tembang Kembul Sewu Dulur adalah bagian dari Macapat Dhandhanggula Laras Slendro Pathet Sanga yang membingkai fenomena upacara mencakup; tempat, waktu, harapan, pelestarian, dan leluhur warga Desa Pendoworejo. (2) Berdasarkan leksia dan semiotika Barthes, tembang Kembul Sewu Dulur secara keseluruhan terdiri dari empat tataran makna simbolik. Pertama, tembang Kembul Sewu Dulur leksia pada 1, gatra 1-5, makna murni terbentuknya bendungan Kayangan. Kedua, tembang Kembul Sewu Dulur leksia pada 1, gatra 6-10, arti kerukunan ditinjau melalui doa yang dilakukan dengan bahasa Jawa dan etimologi Kembul Sewu Dulur merupakan analogi dari warga Desa Pendoworejo yang menganggap bahwa semua pengunjung upacara sebagai saudara. Ketiga, tembang Kembul Sewu Dulur leksia pada 2, gatra 1-7, pelestarian yang efektif yang dilakukan warga Desa Pendoworejo adalah sebuah upaya untuk mempertahankan eksistensi upacara. Keempat, tembang Kembul Sewu Dulur leksia pada 2, gatra 8-10, arti dari Mbah Bei dan bendungan Kayangan dianggap telah melahirkan bagi kehidupan penduduk Desa Pendoworejo. arti kerukunan ditinjau melalui doa yang dilakukan dengan bahasa Jawa dan etimologi Kembul Sewu Dulur merupakan analogi dari warga Desa Pendoworejo yang menganggap bahwa seluruh pengunjung adalah sebagai saudara. Ketiga, tembang Kembul Sewu Dulur leksia pada 2, gatra 1-7, pelestarian yang efektif yang dilakukan warga Desa Pendoworejo adalah sebuah upaya untuk mempertahankan eksistensi upacara. Keempat, tembang Kembul Sewu Dulur leksia pada 2, gatra 8-10, arti dari Mbah Bei dan bendungan Kayangan dianggap telah melahirkan bagi kehidupan penduduk Desa Pendoworejo. arti kerukunan ditinjau melalui doa yang dilakukan dengan bahasa Jawa dan etimologi Kembul Sewu Dulur merupakan analogi dari warga Desa Pendoworejo yang menganggap bahwa seluruh pengunjung adalah sebagai saudara. Ketiga, tembang Kembul Sewu Dulur leksia pada 2, gatra 1-7, pelestarian yang efektif yang dilakukan warga Desa Pendoworejo adalah sebuah upaya untuk mempertahankan eksistensi upacara. Keempat, tembang Kembul Sewu Dulur leksia pada 2, gatra 8-10, arti dari Mbah Bei dan bendungan Kayangan dianggap telah melahirkan bagi kehidupan penduduk Desa Pendoworejo.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alaydrus, H. S. M. (2009). Agar Hidup Selalu Berkah. (hlm. 38). Bandung: Mizan Pustaka.
Barthes, Roland. (1994). Elements of Semiology. Terjemahan Kahfie Nazaruddin. (2012). Elemen-Elemen Semiologi. (hlm. 94). Yogyakarta: Jalasutra.
Endraswara, Suwardi. (2010). Tuntunan Tembang Jawa. (hlm. 83&84). Sleman: Lumbung Ilmu.
Ghazali, A.M. (2011). Antropologi Agama. (hlm. 35). Bandung: Alfabeta.
Jenks, Chris. (1993). CULTURE. Terjemahan Erika Setyawati. (2013). Culture: Studi Kebudayaan. (hlm. 71). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pradoko, Susilo. (2017). Paradigma-Paradigma Kualitatif Untuk Penelitian Seni, Humaniora, dan Budaya. (hlm. 195-196). Sleman: Charissa Publisher.
Purwadi. (2014). Gula Dalam Kajian Filsafat Budaya Jawa. Jurnal Ikadbudi. Vol.3, No.10. hlm. 3-4.
Rusmana, Dadan. (2014). Filsafat Semiotika. (hlm. 200). Bandung: Pustaka Setia.
Supanggah, Rahayu. (2002). Bothekan Karawitan I. (hlm. 86). Jakarta: MSPI.
Sutiyono. (2012). Paradigma Pendidikan Seni di Indonesia. (hlm. 18). Yogyakarta: UNY Press.
Tim Penyusun. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. (hlm. 1595). Jakarta: Pusat Bahasa.
Vera, Nawiroh. (2014). Semiotika Dalam Riset Komunikasi. (hlm. 28). Bogor: Ghalia Indonesia.
Wahyu Wibowo, IS. 2013. Semiotika Komunikasi. (hlm. 7). Jakarta: Mitra Wacana Media.
Yuwono, Prapto. 2012. Sang Pamomong. (hlm. 126). Yogyakarta: Adiwacana.
Wawancara
Mulyana (67th.), Pemangku Adat, wawancara oleh Wahyu Surbono. ‎2017. “Rumah narasumber, Dusun Ngrancah, Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta”.
Odho Sumarto (75th.), Petani, wawancara oleh Wahyu Surbono. 2017. “Rumah narasumber, Dusun Turusan, Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta”.
Published
2018-07-31
How to Cite
Surbono, W. (2018). BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK TEMBANG DALAM KONTEKS UPACARA REBO PUNGKASAN KEMBUL SEWU DULUR. Jurnal Pustaka Budaya, 5(2), 42-51. https://doi.org/10.31849/pb.v5i2.1577
Section
Articles