ANALISIS KEBIJAKAN INSENTIF DALAM PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN GORONTALO
kebijakan, perlindungan lahan, berkelanjutan
DOI:
https://doi.org/10.31849/agr.v26i02.17942Keywords:
kebijakan, perlindungan lahan, berkelanjutanAbstract
Histori Artikel
Diajukan: 18 DESEMBER 2023
Diterima:
Tersedia Online:
ABSTRAK
Kebutuhan lahan non pertanian cenderung mengalami peningkatan. Hal ini mendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian dan apabila tidak dikendalikan dapat mengancam ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan insentif dalam perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dan bagaimana tanggapan petani terhadap perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan di Kabupaten Gorontalo. Hasil penelitian menunjukan kebijakan insentif perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan kepada petani belum semua terealisasikan dari 7 jenis insentif berdasarkan perda Kabupaten Gorontalo Nomor 2 Tahun 2017 hanya ada satu jenis insentif yang tersalurkan yaitu pemberian benih pada petani. Tanggapan petani padi sawah terhadap kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan berada direntang setuju dan sangat setuju bersedia mengikuti kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
Kata Kunci: kebijakan, perlindungan lahan, berkelanjutan
Sitasi:
Jurnal Agribisnis, 2016, 18(2), 1-8
DOI:
https://doi.org/10.31849/2503-4375
References
[2] A. P. HK, I. W. Yasa, F. Setyawan, Y. Adiwibowo, and F. P. Manggala, “Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Dilindungi (LSD) terhadap Ketahanan Pangan Pedesaan di Kabupaten Jember,” INICIO LEGIS, vol. 4, no. 2, pp. 167–181, 2023.
[3] Haris, “Lahan Sawah di Gorontalo Berkurang Tiga Ribu Hektar,” informasi berita.informasi publik.id, 2020. https://infopublik.id/kategori/nusantara/489239/lahan-sawah-di-gorontalo-berkurang-tiga-ribu-hektar.
[4] E. N. A. M. Sihombing, A. Andryan, and M. Astuti, “Analisis Kebijakan Insentif Dalam Rangka Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Di Indonesia,” Jatiswara, vol. 36, no. 1, pp. 1–10, 2021.
[5] M. Taufik, A. Kurniawan, and F. M. Pusparini, “Penentuan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Menggunakan Metode Multi Data Spasiali Di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan,” Geoid, vol. 13, no. 1, pp. 63–68, 2018.
[6] R. Kusniati, “Analisis perlindungan hukum penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan,” Inov. J. Ilmu Huk., vol. 6, no. 2, 2013.
[7] G. I. Janti, E. Martono, and S. Subejo, “Perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan Guna memperkokoh ketahanan pangan wilayah (Studi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta),” J. Ketahanan Nas., vol. 22, no. 1, pp. 1–22, 2016.
[8] K. T. Ayunita, I. A. P. Widiati, and I. N. Sutama, “Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan,” J. Konstr. Huk., vol. 2, no. 1, pp. 160–164, 2021.
[9] M. Apriyanto, K. M. S. N. S. Fikri, and A. Azhar, “Sosialisasi Konsep Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Di Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir,” PaKMas J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 1, no. 1, pp. 8–14, 2021.
[10] Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif dan R&D,” in ke-26, 2018.
[11] J. Noor, “Meteode Penelitian,” Jakarta: Kencana, 2011.
[12] M. D. Yudhistira, D. Ekonomi, S. Dan, F. Ekonomi, and D. A. N. Manajemen, “BEKASI JAWA BARAT ( Studi Kasus Desa Sriamur Kecamatan Tambun Utara ),” 2013.
[13] dkk Ivoni, “Analisis dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Sawah Terhadap Pendapatan dan Sistem Kehidupan Rumah tangga Petani di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar,” J. Ilm. Mhs. Pertan., vol. 4, no. 1, pp. 437–449, 2019.
[14] R. B. Prihatin, “Alih Fungsi Lahan Di Perkotaan (Studi Kasus Di Kota Bandung Dan Yogyakarta),” J. Aspir., vol. 6, no. 2, pp. 105–118, 2016, doi: 10.22212/aspirasi.v6i2.507.
[15] A. Wicaksono, “Implementasi Program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Kabupaten Karawang: Studi Kasus Penetapan Luas Baku Sawah,” Jejaring Adm. Publik, vol. 12, no. 1, pp. 89–107, 2020.
[1] M. Monsaputra, “Analisis perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi perumahan di kota Padang Panjang,” Tunas Agrar., vol. 6, no. 1, pp. 1–11, 2023.
[2] A. P. HK, I. W. Yasa, F. Setyawan, Y. Adiwibowo, and F. P. Manggala, “Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Dilindungi (LSD) terhadap Ketahanan Pangan Pedesaan di Kabupaten Jember,” INICIO LEGIS, vol. 4, no. 2, pp. 167–181, 2023.
[3] Haris, “Lahan Sawah di Gorontalo Berkurang Tiga Ribu Hektar,” informasi berita.informasi publik.id, 2020. https://infopublik.id/kategori/nusantara/489239/lahan-sawah-di-gorontalo-berkurang-tiga-ribu-hektar.
[4] E. N. A. M. Sihombing, A. Andryan, and M. Astuti, “Analisis Kebijakan Insentif Dalam Rangka Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Di Indonesia,” Jatiswara, vol. 36, no. 1, pp. 1–10, 2021.
[5] M. Taufik, A. Kurniawan, and F. M. Pusparini, “Penentuan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Menggunakan Metode Multi Data Spasiali Di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan,” Geoid, vol. 13, no. 1, pp. 63–68, 2018.
[6] R. Kusniati, “Analisis perlindungan hukum penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan,” Inov. J. Ilmu Huk., vol. 6, no. 2, 2013.
[7] G. I. Janti, E. Martono, and S. Subejo, “Perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan Guna memperkokoh ketahanan pangan wilayah (Studi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta),” J. Ketahanan Nas., vol. 22, no. 1, pp. 1–22, 2016.
[8] K. T. Ayunita, I. A. P. Widiati, and I. N. Sutama, “Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan,” J. Konstr. Huk., vol. 2, no. 1, pp. 160–164, 2021.
[9] M. Apriyanto, K. M. S. N. S. Fikri, and A. Azhar, “Sosialisasi Konsep Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Di Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir,” PaKMas J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 1, no. 1, pp. 8–14, 2021.
[10] Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif dan R&D,” in ke-26, 2018.
[11] J. Noor, “Meteode Penelitian,” Jakarta: Kencana, 2011.
[12] M. D. Yudhistira, D. Ekonomi, S. Dan, F. Ekonomi, and D. A. N. Manajemen, “BEKASI JAWA BARAT ( Studi Kasus Desa Sriamur Kecamatan Tambun Utara ),” 2013.
[13] dkk Ivoni, “Analisis dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Sawah Terhadap Pendapatan dan Sistem Kehidupan Rumah tangga Petani di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar,” J. Ilm. Mhs. Pertan., vol. 4, no. 1, pp. 437–449, 2019.
[14] R. B. Prihatin, “Alih Fungsi Lahan Di Perkotaan (Studi Kasus Di Kota Bandung Dan Yogyakarta),” J. Aspir., vol. 6, no. 2, pp. 105–118, 2016, doi: 10.22212/aspirasi.v6i2.507.
[15] A. Wicaksono, “Implementasi Program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Kabupaten Karawang: Studi Kasus Penetapan Luas Baku Sawah,” Jejaring Adm. Publik, vol. 12, no. 1, pp. 89–107, 2020.
[1] M. Monsaputra, “Analisis perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi perumahan di kota Padang Panjang,” Tunas Agrar., vol. 6, no. 1, pp. 1–11, 2023.
[2] A. P. HK, I. W. Yasa, F. Setyawan, Y. Adiwibowo, and F. P. Manggala, “Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Dilindungi (LSD) terhadap Ketahanan Pangan Pedesaan di Kabupaten Jember,” INICIO LEGIS, vol. 4, no. 2, pp. 167–181, 2023.
[3] Haris, “Lahan Sawah di Gorontalo Berkurang Tiga Ribu Hektar,” informasi berita.informasi publik.id, 2020. https://infopublik.id/kategori/nusantara/489239/lahan-sawah-di-gorontalo-berkurang-tiga-ribu-hektar.
[4] E. N. A. M. Sihombing, A. Andryan, and M. Astuti, “Analisis Kebijakan Insentif Dalam Rangka Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Di Indonesia,” Jatiswara, vol. 36, no. 1, pp. 1–10, 2021.
[5] M. Taufik, A. Kurniawan, and F. M. Pusparini, “Penentuan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Menggunakan Metode Multi Data Spasiali Di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan,” Geoid, vol. 13, no. 1, pp. 63–68, 2018.
[6] R. Kusniati, “Analisis perlindungan hukum penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan,” Inov. J. Ilmu Huk., vol. 6, no. 2, 2013.
[7] G. I. Janti, E. Martono, and S. Subejo, “Perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan Guna memperkokoh ketahanan pangan wilayah (Studi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta),” J. Ketahanan Nas., vol. 22, no. 1, pp. 1–22, 2016.
[8] K. T. Ayunita, I. A. P. Widiati, and I. N. Sutama, “Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan,” J. Konstr. Huk., vol. 2, no. 1, pp. 160–164, 2021.
[9] M. Apriyanto, K. M. S. N. S. Fikri, and A. Azhar, “Sosialisasi Konsep Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Di Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir,” PaKMas J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 1, no. 1, pp. 8–14, 2021.
[10] Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif dan R&D,” in ke-26, 2018.
[11] J. Noor, “Meteode Penelitian,” Jakarta: Kencana, 2011.
[12] M. D. Yudhistira, D. Ekonomi, S. Dan, F. Ekonomi, and D. A. N. Manajemen, “BEKASI JAWA BARAT ( Studi Kasus Desa Sriamur Kecamatan Tambun Utara ),” 2013.
[13] dkk Ivoni, “Analisis dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Sawah Terhadap Pendapatan dan Sistem Kehidupan Rumah tangga Petani di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar,” J. Ilm. Mhs. Pertan., vol. 4, no. 1, pp. 437–449, 2019.
[14] R. B. Prihatin, “Alih Fungsi Lahan Di Perkotaan (Studi Kasus Di Kota Bandung Dan Yogyakarta),” J. Aspir., vol. 6, no. 2, pp. 105–118, 2016, doi: 10.22212/aspirasi.v6i2.507.
[15] A. Wicaksono, “Implementasi Program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Kabupaten Karawang: Studi Kasus Penetapan Luas Baku Sawah,” Jejaring Adm. Publik, vol. 12, no. 1, pp. 89–107, 2020.














