Pengembangan Branding Pariwisata Sejarah Dan Budaya Kabupaten Humbang Hasundutan
DOI:
https://doi.org/10.31849/gzbgpm25Keywords:
Branding Destinasi, Pariwisata Sejarah dan Budaya, Etnografi, Analisis IFAS-EFASAbstract
Kabupaten Humbang Hasundutan menyimpan potensi wisata sejarah dan budaya yang besar sebagai salah satu geosite Toba Caldera UNESCO Global Geopark, namun kunjungan wisatawan menurun dari 131.137 orang (2019) menjadi 88.348 orang (2021), seiring lemahnya tata kelola kebijakan branding destinasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan efektivitas branding "Explore Humbang Hasundutan" yang berjalan saat ini, menelusuri inisiatif pembentukan branding berbasis sejarah dan budaya, serta merumuskan arah kebijakan branding yang relevan bagi tata kelola pariwisata daerah ke depan. Pendekatan kualitatif etnografi digunakan sebagai kerangka utama, didukung data kuantitatif dari 77 responden wisatawan, dengan lima informan kunci dipilih secara purposive sampling dan divalidasi melalui triangulasi sumber. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap etnografi Spradley, dipertajam dengan matriks IFAS-EFAS yang diplot ke diagram kuadran SWOT. Hasil penelitian menunjukkan branding eksisting belum memiliki payung hukum resmi dan posisi strategis kawasan berada pada kuadran turn-around (skor internal -0,35; skor eksternal +1,83), yang mengisyaratkan urgensi kebijakan kolaborasi lintas aktor (penta helix) untuk melegalkan dan menguatkan identitas "Negeri Pesona Seribu Legenda" dengan positioning "The Real Geopark".
References
[1] Achmad, Mansyur (2013). Dilema Desentralisasi & Otonomi Daerah. Jatinangor: Alqaprint Jatinangor.
[2] Adi, P. S. (2021). Perancangan destination branding Wisata Sumberawan sebagai upaya untuk meningkatkan brand awareness. Universitas Dinamika.
[3] Adona, F., Ramadhan, T. Y., & Yolanda, A. (2017). Branding destinasi pariwisata sebagai strategi pengembangan citra daerah. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik.
[4] Bungin, B. (2015). Metodologi penelitian kualitatif. Rajawali Pers.
[5] Cahyadi, H. S., & Newsome, D. (2021). The post Covid-19 tourism dilemma for geoparks in Indonesia. International Journal of Geoheritage and Parks, 9(2), 199-211. https://doi.org/10.1016/j.ijgeop.2021.02.003
[6] Dunn, W. N. (2018). Public policy analysis: An integrated approach (6th ed.). Routledge.
[7] Ferizaldi. (2016). Dinamika Otonomi Daerah di Indonesia. Unimal Press.
[8] Gunawan, R. (2013). Perancangan destination branding Desa Poncokusumo, Malang. Jurnal Desain Komunikasi Visual Adiwarna, 1(2), 1-10.
[9] Hanzaee, K. H., & Saeedi, H. (2011). A model of destination branding for Isfahan city: Integrating the concepts of the branding and destination image. Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business, 3(4), 1-19.
[10] Insani, N., Narmaditya, B. S., Habibi, M. M., A'Rachman, F. R., & Majid, Z. (2023). Prospect and challenges with penta helix model for UNESCO Global Geopark and local economic development: A lesson from Indonesia. GeoJournal of Tourism and Geosites, 46(1), 156-162. https://doi.org/10.30892/gtg.46117-1011
[11] Ismoyo. (2019). Perancangan city branding Kabupaten Temanggung sebagai destinasi wisata alam dan budaya. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
[12] Keller, K. L. (2013). Strategic brand management: Building, measuring, and managing brand equity (4th ed.). Pearson.
[13] Landa, R. (2006). Designing brand experiences. Thomson Delmar Learning.
[14] Matthoriq, M., Zauhar, S., & Hermawan, R. (2021). Collaborative governance dalam tata kelola pariwisata-desa (Studi pariwisata-desa "Bumiaji Agrotourism" di Kota Wisata Batu). Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, 7(1), 20-29. https://doi.org/10.21776/ub.jiap.2021.007.01.3
[15] Neumeier, M. (2003). The brand gap: How to bridge the distance between business strategy and design. New Riders.
[16] Rangkuti, F. (2016). SWOT balanced scorecard: Teknik menyusun strategi korporat yang efektif plus cara mengelola kinerja dan risiko. Gramedia Pustaka Utama.
[17] Rustan, S. (2013). Mendesain logo. Gramedia Pustaka Utama.
[18] Spradley, J. P. (2007). Metode etnografi (M. Z. Elizabeth, Trans.). Tiara Wacana.
[19] Sugiyono, & Andre, R. (2011). Model perilaku konsumen digital AISAS dalam strategi komunikasi pemasaran. Jurnal Ilmu Komunikasi.
[20] Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
[21] Supriyanto, A., Kusbandrijo, B., & Widodo, J. (2024). Tata kelola kolaboratif pengembangan pariwisata dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pacitan. Cakrawala: Jurnal Litbang Kebijakan, 18(1), 21-34. https://doi.org/10.32781/cakrawala.v18i1.680
[22] UNESCO. (2004). Guidelines and criteria for national geoparks seeking UNESCO's assistance to join the Global Geoparks Network (GGN). UNESCO.









