Implikasi Pembuangan Limbah Nuklir Fukushima Daiichi Terhadap Hubungan Ekonomi Politik Jepang Dan Tiongkok
DOI:
https://doi.org/10.31849/wh65tg34Keywords:
fukushima daiichi, limbah nuklir, hubungan jepang–tiongkok, ekonomi politik internasional, diplomasi lingkunganAbstract
Penelitian ini membahas dampak kebijakan Jepang membuang air limbah nuklir Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik terhadap hubungan ekonomi dan politik dengan Tiongkok. Meskipun Jepang menyatakan air tersebut telah aman setelah melalui proses penyaringan ALPS dan mendapat dukungan International Atomic Energy Agency, Tiongkok menilai kebijakan itu berisiko bagi lingkungan laut dan kesehatan masyarakat. Sebagai respons, Tiongkok melarang impor produk perikanan Jepang dan meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Jepang. Penelitian ini menggunakan Teori Ekologi Politik dari Paul Robbins untuk menjelaskan bahwa isu lingkungan tidak terlepas dari kepentingan politik dan ekonomi negara. Jepang dipandang berupaya menjaga stabilitas energi dan citra internasionalnya, sedangkan Tiongkok memanfaatkan isu Fukushima sebagai instrumen politik dan ekonomi dalam hubungan bilateral. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan data dari jurnal, laporan resmi, berita internasional, serta dokumen pemerintah Jepang dan Tiongkok. Fokus penelitian diarahkan pada dampak kebijakan Fukushima terhadap perdagangan, diplomasi, investasi, dan hubungan bilateral kedua negara. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pembuangan limbah nuklir Fukushima bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi isu ekonomi politik internasional yang memperburuk ketegangan Jepang–Tiongkok dan memengaruhi stabilitas hubungan di kawasan Asia Timur
Downloads
References
[1]. Anadolu Agency. (2025). Japan’s Nuclear Plant Wastewater Release a Serious Breach of Trust, Says China. https://www.aa.com.tr
[2]. BBC News. (2023). China Strongly Opposes Japan’s Fukushima Wastewater Release. https://www.bbc.com/news/world-asia
[3]. Council on Foreign Relations (CFR). (2024). China–Japan Relations: Timeline and Analysis. https://www.cfr.org/backgrounder/strained-ties-between-china-and-japan
[4]. Creswell, Jhon. W. 2014. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. California: Sage Publications. https://books.google.co.id/books? id=4uB76IC_pOQC&printsec=copyright &hl=id#v=onepage&q&f=false . Diakses pada 16 April 2026.
[5]. Entman, R. M. (1993). Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58.
[6]. He, Y. (2009). The Search for Reconciliation: Sino-Japanese and German-Polish Relations since World War II. Cambridge University Press.
[7]. International Atomic Energy Agency (IAEA). (2023). Comprehensive ALPS Safety Review Report. Vienna: IAEA.
[8]. Japan External Trade Organization (JETRO). (2023). Japan–China Trade and Investment Report 2023. Tokyo: JETRO.
[9]. Japan Ministry of Finance. (2025). Publications and Trade Statistics. https://www.mof.go.jp
[10]. Jervis, R. (1978). Cooperation under the Security Dilemma. World Politics, 30(2), 167–214.
[11]. Li, M. (2024). China’s Response to Japan’s Fukushima Wastewater Discharge. Journal of Contemporary China, 33(145).
[12]. Ministry of Foreign Affairs of the People’s Republic of China. (2023). Official Statements on Fukushima Wastewater Issue. https://www.mfa.gov.cn
[13]. Nye, J. S. Jr. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. New York: PublicAffairs.
[14]. Reuters. (2023). China Bans Japanese Seafood over Fukushima Wastewater Release. https://www.reuters.com
[15]. Shirk, S. L. (2007). China: Fragile Superpower. Oxford University Press.
[16]. World Bank. (2025). Trade Summary for Japan. https://wits.worldbank.org









